(BANJARBARU – Minggu ,8 Februari 2026.)
Pemerintah Kota Banjarbaru terus memperkuat komitmen menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah. Upaya tersebut ditandai dengan kunjungan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, bersama Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru ke Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Kedatangan rombongan disambut langsung Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Pertemuan tersebut mengusung misi meminta dukungan pemerintah pusat untuk penetapan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum, yakni kawasan budaya hidup berbasis sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Banjarbaru.
Dalam pertemuan itu, Wali Kota Lisa menegaskan langkah tersebut bukan sekadar upaya pelestarian sejarah. Inisiatif ini dipandang sebagai strategi pembangunan berkelanjutan yang memadukan budaya, edukasi, dan ekonomi kreatif.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Kebudayaan yang telah menerima pertemuan ini,” kata Wali Kota Lisa. “Kehadiran kami merupakan ikhtiar menyelaraskan arah kebijakan pusat dan daerah agar pembangunan kebudayaan di Banjarbaru berjalan seiring dan saling menguatkan.”
Ia menjelaskan pengembangan Cempaka sebagai Living Museum tidak hanya bertujuan melestarikan sejarah dan budaya. Langkah ini juga menjadi fondasi Banjarbaru menuju Kota Kreatif Nasional 2027.Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, di Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026. (Foto: Yds/MedCenBJB)
KBRN, Banjarbaru – Pemerintah Kota Banjarbaru terus memperkuat komitmen menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah. Upaya tersebut ditandai dengan kunjungan Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, bersama Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Banjarbaru ke Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.
Kedatangan rombongan disambut langsung Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Pertemuan tersebut mengusung misi meminta dukungan pemerintah pusat untuk penetapan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum, yakni kawasan budaya hidup berbasis sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Banjarbaru.

Dalam pertemuan itu, Wali Kota Lisa menegaskan langkah tersebut bukan sekadar upaya pelestarian sejarah. Inisiatif ini dipandang sebagai strategi pembangunan berkelanjutan yang memadukan budaya, edukasi, dan ekonomi kreatif.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri Kebudayaan yang telah menerima pertemuan ini,” kata Wali Kota Lisa. “Kehadiran kami merupakan ikhtiar menyelaraskan arah kebijakan pusat dan daerah agar pembangunan kebudayaan di Banjarbaru berjalan seiring dan saling menguatkan.”
Ia menjelaskan pengembangan Cempaka sebagai Living Museum tidak hanya bertujuan melestarikan sejarah dan budaya. Langkah ini juga menjadi fondasi Banjarbaru menuju Kota Kreatif Nasional 2027.
Advertisement
“Kami memohon arahan dan dukungan Bapak Menteri, khususnya terkait pengembangan Kecamatan Cempaka sebagai Living Museum,” ujar Lisa. “Besar harapan kami Cempaka menjadi ruang hidup kebudayaan yang berkelanjutan sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya.”

Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, memberikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kota Banjarbaru dan KEK Banjarbaru. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keseriusan daerah dalam menempatkan kebudayaan sebagai kekuatan strategis pembangunan.
“Kementerian Kebudayaan terbuka memberikan dukungan maksimal, termasuk pendampingan teknis agar pengembangan Cempaka berjalan terarah dan berkelanjutan,” kata Fadli Zon. “Saya mendorong Pemerintah Kota Banjarbaru berkoordinasi aktif dengan satuan kerja Kementerian di daerah agar setiap langkah dapat lebih optimal.”Kecamatan Cempaka, khususnya kawasan Pumpung, dikenal sebagai jantung pendulangan intan tradisional. Dari wilayah ini lahir kisah penemuan Intan Trisakti, intan mentah terbesar yang pernah ditemukan di Indonesia dengan berat 166,75 karat.
Penemuan bersejarah tersebut terjadi pada 26 Agustus 1965 oleh 24 pendulang yang dipimpin H. Matsam. Intan itu kemudian dinamai Presiden Soekarno sebagai simbol kesaktian dan kedaulatan bangsa dengan nilai taksiran mencapai Rp10 triliun.
Di balik kilau intan tersebut tersimpan perjuangan panjang para pendulang yang selama ini jarang tersorot. Kisah-kisah itulah yang ingin diangkat kembali melalui gagasan Cempaka Living Museum.
Melalui konsep tersebut, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dihidupkan sebagai ruang edukasi dan destinasi wisata sejarah. Selain itu, Living Museum diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya.
Konsep ini ditargetkan menjadikan Cempaka sebagai laboratorium kebudayaan terbuka. Di dalamnya, generasi muda dapat belajar sejarah, wisatawan memperoleh pengalaman autentik, dan masyarakat lokal merasakan manfaat ekonomi secara langsung.
Dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, Banjarbaru optimistis Cempaka akan berkembang sebagai lebih dari sekadar saksi masa lalu. Kawasan ini diharapkan tumbuh menjadi episentrum masa depan kebudayaan dan ekonomi kreatif Kalimantan Selatan. (Yds/MedCenBJB)
