Banjarbaru Menuju Smart City, Bimtek tahap 2 sudah dilaksanakan.

Home / Informatika / Banjarbaru Menuju Smart City, Bimtek tahap 2 sudah dilaksanakan.

Bertempat di Aula Gawi Sabarataan Pada Tanggal 8-9 Agustus 2018 Acara Bimbingan Teknis Tahap II Gerakan Menuju 100 Smart City Kota Banjarbaru.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh Kadis Kominfo Johan Arifin dengan narasumber dari dosen perbanas Niko Demus Simu sebagai tim pembina atau pendamping smart city Kota Banjarbaru dan Yusuf dari kemenkominfo.

Bimtek tahap 2 ini meninjau kembali hasil pelaksanaan bimtek tahap 1, melalui expose buku 1 yang dipaparkan oleh tim pengurus smart city Kota Banjarbaru, kemudian menentukan “quick win” dan membuat kertas kerja rencana program pembangunan sebagai bahan untuk buku 2 smart city Kota Banjarbaru.

Beberapa bulan terakhir ini, kita sering mendengar atau membaca tentang konsep Smart City yang sedang dicanangkan oleh beberapa kepala daerah di Indonesia, seperti Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok, Gubernur Jakarta). Mulai terlihat pula bahwa konsep Smart City ini akan mulai diikuti oleh kepala-kepala pemerintahan di daerah lainnya, seperti Banyuwangi, Banda Aceh, dan Balikpapan.

Berdasarkan Wikipedia, definisi dari Smart City itu begitu luas mencakup berbagai macam keseluruhan teknologi digital yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan, mengurangi biaya dan sumber konsumsi, dan  dapat meningkatkan interaksi aktif antara kota dan warganya secara efektif. Perlu digaris bawahi bahwa cakupan teknologi digital yang dapat diterapkan untuk pengembangan Smart City sangat luas dan tidak dibatasi. Penerapan dan aplikasi dari teknologi tersebut juga sangat bervariasi dan dapat diterapkan di semua bidang selama tujuan akhirnya tersebut tercapai. Beberapa contoh penerapan konsep Smart City di Indonesia :

  1. E-Government
  2. E-Budgeting
  3. Command Center di Bandung
  4. E-Village di Banyuwangi
  5. Portal Pengadaan Nasional oleh INAPROC
  6. Layanan Paspor Online oleh Dirjen Imigrasi RI
  7. Situs LAPOR oleh UKP-PPP (salah satu Unit Kerja Presiden) dan sebagainya

Sistem seperti ini sangat menarik dan akan sangat berguna apabila dapat di-implementasikan di seluruh daerah di Indonesia, tidak terbatas hanya perkotaan. Namun,  investasi daripada Smart City IOT ini lebih mahal daripada aplikasi software semata, dikarenakan diperlukan CAPEX yang cukup besar berupa Infrastruktur dan Hardware, oleh karena itu “Barrier to Implement” teknologi ini jauh lebih tinggi. Pemerintah daerah tidak bisa hanya sendirian melakukan implementasinya tapi harus bersama-sama semua pihak termasuk pihak akademisi, swasta dan komunitas, membentuk suatu Smart City Ecosystem yang integrated and sustainable.

Related Posts

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

[LayerSliderWP] Invalid shortcode